Diskusi Buku “Mencintai Munir”, Menggali Ingatan atas Sang Aktivis

oleh -58 Dilihat

Ambon -Suaratimurnewscom Mendiang Munir Said Thalib seolah tak habis-habisnya untuk diulas dalam buku. Tak cuma tentang perjuangan, tapi juga komitmennya untuk mencari keadilan bagi orang-orang tertindas.

Kali ini, giliran sang istri yakni Suciwati yang ingin mengajak pembaca mengenal lebih dekat aktivis HAM kelahiran Surabaya itu dalam buku “Mencintai Munir.”

Suciwati berkesempatan membagi cerita di balik penggarapan buku terbitan Museum HAM Munir tersebut di Ambon, dalam diskusi yang dihelat atas kerjasama Yayasan Tifa, Imparsial, Museum Munir dan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Maluku, Rabu (12/7/2023).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di News Rock Cafe dan dihadiri mahasiswa, pegiat HAM, masyarakat umum, dan jurnalis.
Narasumber diskusi dan bedah buku ini diantaranya: Suciwati (Penulis/Istri Munir Said Thalib); Hussein Ahmad (Peneliti Imparsial), Dino Umahuk ( Ketua Bidang organisasi Pengurus Pusat JMSI) dan Rere Khairiyah (Ketua AJI Ambon).

Moderator kegiatan ini adalah Mark Ufie yang merupakan pelaku seni dan pegiat komunitas di Kota Ambon.

Bagi perempuan 54 tahun itu, proses penggarapan “Mencintai Munir” berjalan sulit lantaran harus kembali mengingat masa-masa getir selepas sang suami dibunuh.

“Sebenarnya ini soal yang tidak mudah karena harus memanggil ingatan. Bukan cuma tentang kehangatan almarhum, tapi juga tentang rasa kehilangan. Bagaimana saya mendapat ruang ketidakadilan, dan prosesnya juga panjang,” ujar Suciwati di hadapan para peserta diskusi.

Keputusan Suciwati untuk menulis tak lepas dari keinginan menghadirkan sebuah buku yang membawa pembaca lebih dekat dengan Munir. Selain itu, ternyata belum ada buku yang menurutnya sreg lantaran masih banyak detail yang terlewat, dan hanya tahu aktivitas mendiang dari luar alih-alih sebagai “orang dalam.”

“Saya memang sudah mengumpulkan semua tulisan, riset dan memo yang pernah kami jalani. Sudah terkumpul, dan bagi beberapa orang ternyata kurang pas atau tidak bisa. Jadi pada satu titik, saya harus memulai karena saya tidak mau ada penyesalan dan orang hanya mengenal Munir dari luarnya saja,” ujarnya.

Lebih jauh, Suciwati menyebut buku ini sebagai bentuk rasa cintanya kepada sang suami, sekaligus upayanya meluruskan segala simpang siur yang menyangkut Munir. Sekaligus menunaikan niatan yang sudah lama ia pancang.

“Pada akhirnya dengan buku ini saya bisa merasa lega akhirnya bisa menghadirkan buku ini,” tutur perempuan asal Malang tersebut.

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat JMSI Dino Umahuk yang hadir sebagai pembicara, masih ingat betul masa-masa awalnya bekerja di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), kemudian di Radio Voice of Human Rights (VHR) dan bisa bercengkerama langsung dengan Munir.

“Dari beliaulah saya belajar tentang extraordinary crime, atau yang dia sebut sebagai pelanggaran HAM. Saya pertama kali dengar istilah itu dari Cak Munir. Dari ngobrol, bukan buku,” ujar Dino.

“Dia ini punya magnitude komunikasi yang bagus banget. Orang lihat Munir itu musti ikut seminar atau lihat di televisi. Kita malah bisa membawanya langsung ke kantor untuk menjelaskan sesuatu. Dan dia memang senang diskusi dengan anak muda,” imbuhnya.

Dino juga bercerita bahwa ia diajari oleh Munir cara berempati dan bersolidaritas dengan golongan marjinal. Mulai dari “rumus-rumus” dalam advokasi buruh, serta logika-logika kala pendampingan.
Dino mengatakan bahwa Munir adalah sosok yang rendah hati dalam membela hak-hak masyarakat, serta hidupnya banyak didedikasikan kepada korban.

“Munir tidak pernah lupa darimana dia berpijak, dan ia selalu mengingat itu. Hidupnya didedikasikan untuk keadilan korban, nyawanya dipertaruhkan untuk kebenaran, dan rezekinya disedekahkan untuk korban-korban,” pungkasnya.

Ketua AJI Ambon Rere Khairiyah menyebut bahwa buku “Mencintai Munir” bisa mengajak anak-anak muda melihat sang aktivis dari sudut pandang seorang pasangan dan ibu. Serta bagaimana perjalanan isu HAM di Indonesia.

“Membaca ini ibarat sebuah naskah film atau novel yang sangat accomplished, dalam struktur. Saya pikir ini bisa menyegarkan ingatan kita dalam sudut pandang yang lebih menyentuh dan emosional, sekaligus jadi sumber informasi yang bagus,” jelasnya.

“Poin yang menarik saat membaca buku ini adalah kita dihadapkan pada kondisi dunia aktivis, dunia advokasi, dunia dimana Munir dihadapkan pada persoalan yang serius, sehingga buku ini menjadi gambaran bahwa Munir adalah sosok yang menginspirasi,” sambung Rere.(*)