Ambon, -Suaratimurnews.com Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menghadapi tekanan fiskal dalam penyusunan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026.
Meski pendapatan daerah diproyeksikan naik menjadi Rp1,187 triliun, struktur anggaran perubahan masih mencatat defisit Rp4,166 miliar.
Rancangan tersebut disampaikan Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena saat memaparkan Rancangan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD 2026 di Ambon, Senin (14/9/2026).
Bodewin mengatakan, pendapatan daerah dalam rancangan perubahan APBD 2026 ditargetkan mencapai Rp1,187 triliun. Angka ini meningkat 5,44% dibandingkan APBD murni 2026 sebesar Rp1,126 triliun.
Namun, peningkatan pendapatan tersebut belum mampu sepenuhnya menutup kebutuhan belanja daerah.
“Perlu kami jelaskan bahwa Rancangan Perubahan Tahun 2026, antara pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah masih terdapat defisit sebesar Rp4.166.078.716,” kata Bodewin.
Belanja Daerah Capai Rp1,333 Triliun
Di sisi lain, kebutuhan belanja Pemkot Ambon dalam rancangan perubahan APBD 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp1,333 triliun.Nilai tersebut naik 3,15% dibandingkan APBD murni 2026 yang berada di kisaran Rp1,292 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang fiskal Pemkot Ambon masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mengimbangi peningkatan kebutuhan belanja daerah.
Meski demikian, defisit dalam rancangan perubahan APBD 2026 disebut telah mengalami perbaikan. Nilainya turun sekitar Rp20,52 miliar dibandingkan kondisi defisit pada APBD murni 2026.
Rencana Pinjaman Daerah Dipangkas
Tekanan fiskal juga tercermin dari penyesuaian rencana pembiayaan daerah, khususnya melalui pinjaman daerah.
Sebelumnya, Pemkot Ambon merencanakan pinjaman sebesar Rp200 miliar. Dalam rancangan perubahan APBD 2026, angka tersebut diturunkan menjadi sekitar Rp166,57 miliar.
Penurunan rencana pinjaman menjadi bagian dari penyesuaian struktur pembiayaan daerah dalam menghadapi perubahan kondisi fiskal pada 2026.
Dengan demikian, Pemkot Ambon kini harus menjaga keseimbangan antara peningkatan pendapatan, kebutuhan belanja, serta kemampuan pembiayaan agar tekanan fiskal tidak semakin melebar.(*)

