BI : Peningkatan Angkutan Udara Dorong Inflasi Maluku Jadi 1,06 Persen

oleh -216 Dilihat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Noviarsano Manullang

Ambon,-Suaratimurnews.com Provinsi Maluku tercatat mengalami inflasi sebesar 1,06% (month to monthlmtm) pada bulan November 2021, meningkat dibandingkan dengan inflasi yang terjadi pada bulan Oktober 2021 sebesar 0,19% (mtm).Ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Noviarsano Manullang dalam penjelasan pers yang diterima media ini Kamis 2/12/2021.

Peningkatan inflasi Maluku secara bulanan tersebut utamanya disebabkan oleh kelompok transportasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Realisasi inflasi Provinsi Maluku secara bulanan pada November 2021 tercatat lebih tinggi dari Nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,37% (mtm).

Adapun secara tahunan dan tahun berjalan, inflasi Provinsi Maluku masing-masing tercatat sebesar 3,08% (year on year/oy) dan 3,19% (year fo dafe/ytd). Realisasi inflasi Maluku sampai dengan bulan November 2021 berada pada rentang sasaran inflasi tahun 2021 yang ditetapkan oleh Tim Pengendalian lnflasi Daerah (TPID) Maluku sebesar 3,0+1 % (yoy).

Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 6,73% (mtm) dan menyumbangkan andil sebesar 0,87% (andil, mtm). Peningkatan harga pada kelompok transportasi utamanya disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara sebesar 30,65% (mtm), didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap jasa angkutan udara seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat sepanjang bulan November 2021.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia, tarif angkutan udara rute Jakarta-Ambon meningkat sebesar 60,96% (mtm) pada minggu ke-IV November 2021 menjadi Rp2.558.075,-.Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,39% (mtm) dan menyumbangkan andil sebesar 0,12% (andil, mtm).

lnflasi pada kelompok ini utamanya didorong oleh komoditas cabai rawit dan ikan layang yang masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 27,40% (mtm) dan 7,65% (mtm).

Kenaikan harga kedua komoditas tersebut ditengarai terjadi akibat menurunnya pasokan karena pola panen yang masuk kondisi waspada produksi serta fenomena La Nina yang mulai terjadi di wilayah Maluku.

Selain itu, kenaikan tarif pengiriman kontainer disinyalir mengakibatkan kenaikan harga khususnya pada komoditas-komoditas yang didatangkan dari luar daerah. Berdasarkan SPH Bank Indonesia, harga cabai rawit merah tercatat meningkat sebesar 29,22% (mtm) menjadi Rp63.900 pada akhir bulan November 2021.

Dalam rangka menjaga stabilitas inflasi sekaligus upaya peningkatan perekonomian Provinsi Maluku selama November 2021, TPID Provinsi Maluku telah melaksanakan beberapa program kerja diantaranya:
1.HLM TPID Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) pada awal bulan November 2021 dipimpin langsung oleh Bupati Seram Bagian Timur (SBT) membahas mengenai upaya pengendalian harga dan stok antar-intra wilayah di SBT serta penjajakan potensi KAD SBT dengan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat dan Provinsi Sulawesi Utara.

2.HLM TPID Kabupaten Maluku Tenggara dipimpin langsung oleh Bupati Maluku Tenggara
mengupdate program pengendalian inflasi sekaligus meluncurkan aplikasi pemantauan stok dan harga bahan pokok berbasis digital.

3.Monitoring Pasokan Bahan Pokok hingga akhir November 2021 terpantau mengalami penurunan stok pada enam dari dua belas bahan pokok di tingkat distributor apabila dibandinpkan denpan bulan Oktober 2021. Adapun komoditas bahan pokok yang menpalami penurunan stok yang sipnifikan adalah minyak goreng.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku tetap berkomitmen menjapa stabilitas harpa dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah, baik di tinpkat Provinsi maupun Kota/Kabupaten, puna menpendalikan inflasi 2021 sesuai denpan kisaran targetnya yaitu sebesar 3,0+1 % (yoy).

Penpendalian inflasi di Maluku dilakukan melalui strategi kebijakan 4K, yakni Keterjangkauan Harpa, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Kornunikasi Etektf.(*)