Ambon, -Suaratimurnews.com Dr. Michael Wattimena, S.E., S.H., M.M., mendorong mahasiswa dan alumni Universitas Pattimura (Unpatti) untuk terus meningkatkan kapasitas diri, menjaga integritas, serta berani keluar dari zona nyaman guna menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Menurut Michael, ijazah bukanlah garis akhir dari proses pendidikan, melainkan menjadi awal pembuktian diri melalui karya, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Michael Wattimena dalam kegiatan IKAPATTI Alumni Inspire: Sharing Session bersama Alumni Inspiratif, yang mengangkat pengalaman karier, dunia kerja, kewirausahaan, dan peluang profesional. Kegiatan berlangsung di Auditorium Universitas Pattimura, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Michael membagikan perjalanan karier dan pengalamannya selama menjadi anggota DPR RI periode 2010, mewakili daerah pemilihan Papua Barat. Saat itu, ia ditempatkan di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan perhubungan.
Salah satu pengalaman yang dibagikannya adalah keterlibatannya dalam memperjuangkan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP), yang kini menjadi salah satu ikon Kota Ambon.
Ia menceritakan, ketika itu Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersama jajaran terkait, termasuk Kepala Balai Jalan dan Jembatan, datang menemui Komisi V DPR RI untuk memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut.
Dalam pembahasan anggaran tahun 2010, perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih akhirnya mendapat persetujuan untuk direalisasikan melalui anggaran multiyears.
“Kalau hari ini Ambon memiliki ikon Jembatan Merah Putih dan adik-adik bisa dengan mudah menuju kampus, tidak seperti kami dahulu yang harus menggunakan perahu atau feri, maka jembatan ini juga merupakan bagian dari perjuangan yang pernah kami lakukan,” ungkapnya.
Michael menegaskan, meskipun secara politik dirinya mewakili Papua Barat, ikatan darah dan asal-usul keluarga dari Maluku tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Karena itu, ia mengaku selalu berupaya memperjuangkan kepentingan Maluku dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika menjalankan tugas dan membangun komunikasi dengan kementerian maupun lembaga pemerintah di Jakarta.
Lebih lanjut, Michael mengingatkan mahasiswa bahwa terdapat tiga aspek penting yang harus dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja, yakni kompetensi, karakter, dan kemauan atau semangat untuk terus berkembang.
Ia menjelaskan, persaingan di pasar tenaga kerja saat ini semakin ketat. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, tetapi harus memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Ketika kita mulai memasuki dunia kerja, situasinya tidak mudah. Kita akan berhadapan dengan pasar tenaga kerja yang memiliki tingkat kompetisi sangat tinggi. Karena itu, persiapkan diri dengan baik,” pesannya.
Michael juga mendorong mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia membagikan pengalamannya ketika menempuh pendidikan S2 di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI, kemudian melanjutkan pendidikan S3. Bahkan, ia kembali mengambil pendidikan S1 Ilmu Hukum di Universitas Bung Karno karena menyadari pentingnya memperluas kompetensi akademik.
Menurutnya, peningkatan pendidikan merupakan salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang profesional. Sebab, dalam proses seleksi pekerjaan, persyaratan administrasi dan latar belakang pendidikan sering menjadi tahapan awal yang menentukan.
“Saya berpikir, ketika suatu saat ada kesempatan dan dibutuhkan latar belakang pendidikan hukum, saya sudah siap untuk masuk dalam kompetisi. Jangan sampai kita gagal sejak awal hanya karena tidak memiliki persyaratan administrasi yang dibutuhkan,” jelasnya.
Namun, Michael menekankan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar mengejar selembar ijazah. Proses belajar harus dijalani secara sungguh-sungguh dengan tetap menjaga kualitas dan integritas akademik.
Ia bahkan menceritakan pengalamannya yang memilih tidak melanjutkan program pendidikan magister hukum karena tidak ingin memperoleh gelar tanpa mengikuti proses perkuliahan secara maksimal.
Selain kompetensi akademik, Michael menyampaikan tiga prinsip penting yang harus menjadi pegangan generasi muda, yakni menjaga integritas dan etos kerja, berani keluar dari zona nyaman, serta menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat.
Ditambahkan, ketiga prinsip tersebut menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan, mengembangkan karier, dan menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.(ST01
