HUT ke-65 Bank Maluku Malut: Syahrisal Imbar Fokus pada Inovasi Digital dan Keamanan Perbankan

oleh -16 Dilihat

Ambon, -Suaratimurnews.com PT Bank Maluku dan Maluku Utara (Bank Maluku Malut) mempercepat transformasi digital dan memperkuat sistem keamanan perbankan untuk menghadapi persaingan industri jasa keuangan yang semakin ketat.

Memasuki usia ke-65 tahun, bank pembangunan daerah ini juga membidik penguatan bisnis intermediasi serta tata kelola perusahaan guna menjaga daya saing dan kepercayaan masyarakat.

Direktur Utama Bank Maluku Malut, Syahrisal Imbar, mengatakan perkembangan teknologi finansial (financial technology/fintech) dan layanan keuangan digital menuntut perbankan daerah untuk terus berinovasi. Persaingan kini tidak hanya datang dari sesama bank, tetapi juga dari berbagai platform digital yang menawarkan kemudahan transaksi kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Syahrisal dalam acara syukuran HUT ke-65 Bank Maluku Malut bertema “Sinergi Basudara, Bakti untuk Negeri” di Aula Lantai IV Kantor Bank Maluku Malut, Senin (26/10/2026).

“Bank Maluku dan Maluku Utara bukan satu-satunya bank yang ada di Ambon, Tual, maupun Tobelo. Ada bank lain, bahkan ada pemain digital yang ikut mengambil peluang bisnis kita,” ujarnya.

Syahrisal menegaskan, digitalisasi menjadi salah satu agenda strategis perusahaan untuk memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan daya saing. Salah satu langkah yang disiapkan ialah memperkuat layanan mobile banking dan mengembangkannya menuju konsep super apps yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan transaksi nasabah.

Melalui strategi tersebut, Bank Maluku Malut diharapkan dapat meningkatkan kemudahan akses layanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspansi jaringan kantor fisik.

Namun, pengembangan teknologi harus diikuti peningkatan penggunaan layanan digital oleh nasabah. Menurut Syahrisal, keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari tersedianya aplikasi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan mendorong penggunaan layanan secara aktif dan berkelanjutan.

“Untuk apa kita membangun layanan menjadi super apps kalau penggunanya masih kurang? Ini menjadi tekad kita bersama agar Bank Maluku dan Maluku Utara bisa lebih maju,” tegasnya.

Selain digitalisasi, perseroan juga akan memperkuat fungsi intermediasi perbankan, yakni menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kembali melalui kredit atau pembiayaan. Penguatan fungsi ini menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus mendorong aktivitas ekonomi daerah.

Di tengah percepatan digitalisasi, Syahrisal mengingatkan bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko. Investasi teknologi, menurut dia, tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak ditopang sistem pengawasan dan pengendalian internal yang memadai.

Bank Maluku Malut akan memperkuat sistem teknologi informasi, membangun pertahanan berlapis, serta meningkatkan kemampuan mendeteksi potensi gangguan dan penyimpangan. Pengujian ketahanan sistem, termasuk melalui stress test, juga menjadi bagian dari upaya memastikan keamanan operasional dan keberlangsungan layanan perbankan.

“Yang paling penting adalah tata kelolanya. Kita harus membangun sistem yang kuat supaya fraud tidak terjadi,” kata Syahrisal.

Ia mengibaratkan bank sebagai kapal yang harus memiliki struktur kokoh, mesin yang mampu mendukung kecepatan, serta sistem yang dapat mencegah kebocoran. Analogi tersebut menggambarkan pentingnya keseimbangan antara ekspansi bisnis, efisiensi, dan pengendalian risiko.

Risiko yang harus diantisipasi tidak hanya berkaitan dengan fraud atau penyimpangan internal, tetapi juga kredit bermasalah, kebakaran, perampokan, serangan siber, hingga berbagai gangguan operasional lainnya.

Karena itu, budaya sadar risiko (risk culture) perlu menjadi bagian dari aktivitas seluruh jajaran perusahaan, bukan hanya tanggung jawab unit kepatuhan atau pengawasan.

Syahrisal turut mengingatkan potensi risiko yang berkaitan dengan judi online dan gaya hidup yang tidak terkendali. Tekanan keuangan pribadi, menurut dia, perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyimpangan apabila tidak dikelola dan diawasi secara tepat.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, perusahaan perlu meningkatkan pengawasan internal, memahami pola transaksi yang tidak wajar, serta membangun sistem pengendalian yang mampu mendeteksi indikasi masalah sejak dini.

Syahrisal juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Know Your Customer (KYC), Know Your Employee (KYE), dan Know Your Transaction (KYT). Ketiga prinsip tersebut berkaitan dengan pengenalan terhadap nasabah, pegawai, serta aktivitas transaksi guna memperkuat pengawasan dan mencegah penyalahgunaan sistem perbankan.

Menurut dia, integritas, disiplin, dan pengawasan yang konsisten menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan.

Memasuki usia ke-65 tahun, Bank Maluku Malut menghadapi tuntutan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat fondasi bisnis di tengah perubahan industri jasa keuangan.

Percepatan transformasi digital, peningkatan bisnis intermediasi, efisiensi operasional, dan penguatan tata kelola menjadi sejumlah fokus yang ditekankan manajemen untuk mendukung keberlanjutan perusahaan.

Dengan mengusung semangat “Sinergi Basudara, Bakti untuk Negeri”, Bank Maluku Malut berkomitmen memperkuat perannya dalam mendukung perekonomian Maluku dan Maluku Utara, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Tantangannya tidak hanya menghadirkan layanan yang semakin mudah dan modern, tetapi juga memastikan setiap inovasi berjalan dengan sistem keamanan yang kuat, pengelolaan risiko yang terukur, serta tata kelola yang dapat menjaga kepercayaan nasabah.(ST01)