Warga Gotong Jenazah Sejauh 4 Kilometer, Potret Sulitnya Akses Jalan di Desa Lohia Sapalewa SBB

oleh -15 Dilihat

SBB -Suaratimurnews.com Duka menyelimuti keluarga almarhumah Balandina Tibalimeten (70), warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku. Almarhumah meninggal dunia pada Senin (18/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIT di rumah duka di Desa Taniwel setelah menderita sakit.

Karena keterbatasan akses jalan menuju Desa Lohia Sapalewa, jenazah almarhumah yang telah dimasukkan ke dalam peti harus dipikul secara bergantian oleh warga setempat. Pada sekitar pukul 18.00 WIT, masyarakat bahu-membahu menggotong jenazah menuju kampung halaman untuk dimakamkan keesokan harinya.

Ketiadaan akses jalan yang memadai membuat kendaraan roda empat tidak dapat mencapai desa tersebut. Warga pun terpaksa memikul peti jenazah dengan menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer melewati medan yang sulit.

Kondisi ini bukan pertama kali dialami masyarakat di wilayah pegunungan yang termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Setiap kali ada warga yang sakit maupun meninggal dunia, masyarakat harus bergotong royong mengangkut pasien atau jenazah secara manual karena kendaraan tidak dapat masuk ke desa.

Kepala Desa Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, mengaku masyarakat hanya bisa berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga pemerintah pusat untuk membangun akses jalan menuju desa mereka.

“Kami hanya berharap pemerintah dapat melihat kondisi masyarakat di daerah pegunungan yang sampai saat ini masih mengalami kesulitan. Kendala utama kami adalah akses jalan menuju Desa Lohia Sapalewa yang panjangnya sekitar 4 kilometer lebih,” kata Thomas.

Menurutnya, setiap kali ada warga yang sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit maupun saat ada warga yang meninggal dunia, masyarakat terpaksa bergotong royong memikul orang sakit maupun jenazah serta kebutuhan lainnya.

“Kami sangat tertinggal dari sisi akses jalan. Mudah-mudahan ada perhatian serius dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat untuk membantu masyarakat di daerah 3T seperti kami. Sampai hari ini kondisi jalan menuju Desa Lohia Sapalewa sangat memprihatinkan. Inilah kehidupan masyarakat kami,” ujarnya.(OP)