Pemkot Ambon Optimalkan Lahan Terbatas demi Ketahanan Pangan, Gandeng TNI-Polri hingga Petani

oleh -114 Dilihat

Ambon.-Suaratimurnews.com Pemerintah Kota Ambon terus memperkuat peran dalam mendukung ketahanan pangan nasional meski menghadapi keterbatasan lahan pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi lahan yang tersedia serta penguatan sinergi lintas sektor, mulai dari TNI, Polri, penyuluh pertanian, hingga petani lokal.

Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengatakan, kolaborasi menjadi kunci agar wilayah perkotaan seperti Ambon tetap mampu berkontribusi terhadap upaya swasembada pangan nasional.

Hal itu disampaikan Wattimena saat menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional yang digelar Kementerian Pertanian RI di Balai Diklat Pertanian Provinsi Maluku, Rabu (7/1/2026).

Menurut Wattimena, untuk komoditas padi gogo atau padi ladang, saat ini Kota Ambon mengelola sekitar 12 hektare lahan yang tersebar di sejumlah lokasi dan sebagian di antaranya telah memasuki masa panen. Selain padi, pengembangan komoditas jagung juga dilakukan melalui kerja sama lintas instansi.

“Keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan. Dengan kerja bersama dan sinergi semua pihak, ketahanan pangan Kota Ambon tetap bisa terjaga dan berkontribusi bagi pangan nasional,” ujar Wattimena.

Ia juga mengajak pemilik lahan kosong di Ambon untuk bersedia bekerja sama dengan pemerintah. Pemerintah, kata dia, tidak berniat mengambil alih kepemilikan lahan, melainkan hanya memanfaatkannya untuk kegiatan pertanian produktif.

“Penyuluh pertanian siap mendampingi mulai dari pengolahan lahan, penyediaan sarana produksi, hingga masa panen. Kepemilikan lahan tetap milik warga,” tegasnya.

Selain padi dan jagung, Wattimena menyoroti komoditas cabai yang kerap menjadi penyumbang inflasi di Kota Ambon. Harga cabai di pasaran, kata dia, dapat mencapai Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.

Padahal, kebutuhan cabai di Kota Ambon diperkirakan mencapai sekitar 1.080 ton per tahun, sementara produksi lokal baru berkisar 40 hingga 50 ton. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar kebutuhan cabai masih harus dipasok dari luar daerah.

“Jika setengah dari kebutuhan itu bisa dipenuhi dari produksi lokal, dampaknya akan sangat besar terhadap pengendalian inflasi,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkot Ambon mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai.

Selain dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, cabai juga memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga di tingkat petani mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kilogram.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Ambon pada tahun ini akan menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian kepada seluruh kelompok tani.

Bantuan tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di pasar.

“Pemerintah hadir untuk mendorong dan memfasilitasi. Harapannya, Ambon semakin mandiri pangan dan inflasi daerah bisa ditekan,” pungkas Wattimena.(*)