Ambon –Suaratimurnews.com Komisi II DPRD Provinsi Maluku turun langsung ke kawasan Teluk Ambon untuk meninjau lokasi tumpahan oli yang mencemari perairan sekitar. Kunjungan lapangan tersebut dilakukan sebagai bentuk respons cepat atas laporan masyarakat mengenai insiden pencemaran yang terjadi di wilayah pesisir Negeri Hative Besar.
Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawadi, mengatakan pihaknya akan segera memanggil Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Ambon serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Maluku guna dimintai penjelasan terkait sumber dan penanganan tumpahan oli tersebut.
“Belum diketahui sumbernya dari kapal mana, tapi sisa tumpahan masih terlihat di pantai. Kami akan koordinasi dengan KSOP dan DLH,” ujar Irawadi kepada wartawan di sela-sela kunjungan lapangan, Senin (3/11/2025).
Menurutnya, kejadian ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memberikan dampak serius terhadap ekosistem laut serta aktivitas nelayan di Teluk Ambon. DPRD juga akan menjadwalkan rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II dan Komisi III, mengingat persoalan tersebut menyangkut dua bidang, yakni lingkungan hidup dan perhubungan laut.
“Kami akan agendakan rapat bersama Komisi III. KSOP merupakan mitra Komisi III, sementara lingkungan hidup berada di Komisi II,” jelasnya.
Lebih lanjut, Irawadi menegaskan pihaknya akan mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) untuk memperkuat pengawasan di wilayah laut Maluku.
“Ini bukan pertama kali terjadi. Kita akan dorong perda B3 agar pengawasan di laut bisa lebih tegas,” tegasnya.
Sementara itu, Pengawas DLH Maluku, Sylvia, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil sampel air laut dan bahan yang diduga oli untuk diuji di laboratorium.
“Proses uji membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Hasilnya akan kami sampaikan saat RDP nanti,” kata Sylvia.
Ia menambahkan, sebaran bahan pencemar diperkirakan mencapai sekitar 100 meter di pesisir Hative Besar. DLH juga mengimbau warga untuk sementara tidak mandi atau melaut di sekitar lokasi hingga hasil uji laboratorium keluar.
“Wilayah itu dilalui berbagai kapal, baik kapal besar maupun kapal nelayan lokal. Jadi kami belum bisa pastikan sumbernya dari mana,” pungkasnya.(*)

