Wisata Kapal Phinisi,Jadi Daya Tarik Bahari, Layak Dikembangkan di Teluk Ambon

oleh -28 Dilihat

Makassar,- Suaratimurnews.com Angin sore berembus lembut di Pantai Losari, Makassar. Dari atas Kapal Phinisi, wisatawan menikmati panorama senja Teluk Makassar sembari menyelami kisah kejayaan maritim suku Bugis-Makassar. Konsep wisata bahari berbasis budaya ini dinilai layak dikembangkan pula di Teluk Ambon yang memiliki pesona laut serupa.

“Wisata Kapal Phinisi ini kami hadirkan untuk memperkenalkan budaya maritim Sulawesi Selatan sekaligus memberi pengalaman baru bagi wisatawan,” kata Andi Rahman, salah satu pengelola wisata Kapal Phinisi di Pantai Losari, di sela-sela menikmati perjalanan berlayar di atas kapal tersebut Kamis (09/10/2025).

Phinisi bukan sekadar kapal layar. Ia merupakan kapal tradisional khas suku Bugis-Makassar yang telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2017. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Phinisi adalah simbol kebanggaan, keberanian, dan kearifan lokal.

Ciri khas kapal ini terletak pada dua tiang utama dan tujuh bentangan layar. Filosofinya beragam. Dalam versi populer, dua tiang melambangkan sepasang suami istri, sedangkan tujuh layar menggambarkan tujuh samudera yang mereka arungi bersama. Sementara dalam tafsir Islami, dua tiang dimaknai sebagai dua kalimat syahadat, dan tujuh layar melambangkan tujuh ayat dalam surah Al-Fatihah.

Kini, wisatawan yang berkunjung ke Pantai Losari bisa menikmati pengalaman unik menaiki replika Kapal Phinisi. Dengan biaya yang terjangkau, pengunjung dapat berlayar menyusuri Teluk Makassar sambil menikmati panorama kota dari laut, ditemani senja antara pukul 17.00 hingga 20.00 WITA dan semilir angin yang menyejukkan.

Menurut Andi Rahman, paket wisata yang ditawarkan beragam — mulai dari sunset cruise, romantic dinner di atas kapal, hingga tur edukasi budaya bagi pelajar dan wisatawan mancanegara. “Wisata ini bukan hanya hiburan, tapi juga cara untuk mengenalkan sejarah dan filosofi pembuatan Kapal Phinisi kepada generasi muda,” ujarnya.

Hal itu diamini Indra (32), salah satu anak buah kapal. “Kapal Phinisi hanya bisa dibuat di Bulukumba, karena ini warisan leluhur kami,” tutur pria asal Tanah Beru itu. “Sejak kecil kami sudah mendengar kisah tentang pembuatan kapal Phinisi dari orang tua kami.”

Pemerintah Kota Makassar, kata Andi, terus mendukung pengembangan wisata bahari ini melalui peningkatan fasilitas dan promosi. Harapannya, Phinisi tak sekadar menjadi atraksi wisata, tetapi juga sarana untuk melestarikan warisan maritim bangsa.

Menariknya, sejumlah wartawan asal Maluku yang ikut dalam rombongan bersama Bank Indonesia provinsi Maluku,menilai bahwa konsep wisata serupa layak dikembangkan di Teluk Ambon. Dengan keindahan alam laut yang tak kalah memukau, Ambon dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan wisata bahari berbasis budaya maritim, seperti wisata Kapal Phinisi di Makassar.

“Konsep seperti ini bisa diterapkan di Teluk Ambon. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan pihak swasta melihat peluangnya,” ujar salah satu wartawan peserta rombongan.

Sore itu, saat matahari tenggelam di ufuk barat, Kapal Phinisi perlahan kembali ke dermaga. Langit Losari berubah ungu keemasan, dan di tengahnya kapal itu tetap tegak  saksi hidup kebanggaan maritim Nusantara yang kini menginspirasi daerah lain untuk ikut berlayar di jejak kejayaan nenek moyang.(*)