Tengah Duka dan Ketegangan, Gubernur Maluku Tegaskan “Seng Ada Orang Tua Mau Anak Bertikai”

oleh -137 Dilihat

Pulau Haruku –Suaratimurnews.com Usai menuntaskan kunjungan kerjanya di Kabupaten Buru, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa tak menunggu lama. Rabu (10/9), ia langsung menuju Negeri Kailolo dan Kabauw, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Langkah cepat itu diambil untuk meredakan ketegangan yang sehari sebelumnya pecah menjadi bentrokan antar dua negeri bertetangga.

Peristiwa pada Selasa (9/9) itu menelan korban jiwa dan luka-luka. Dugaan penganiayaan menjadi pemicu, mengguncang harmoni persaudaraan di wilayah yang selama ini dikenal rukun.

Hendrik hadir bersama Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, Kapolda Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto, Kapolresta Ambon Kombes  Yoga Setya, serta Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir. Turunnya jajaran Forkopimda ke lapangan memperlihatkan keseriusan negara hadir di tengah rakyat, bukan sekadar memberi arahan dari balik meja rapat.

Kedatangan rombongan disambut warga dengan campuran cemas dan harap. Sebagian masih menyimpan trauma bentrokan, namun banyak pula yang menantikan jalan damai.

Di hadapan warga, Gubernur Hendrik bersuara lantang, mengawali dengan pernyataan identitasnya sebagai bagian dari masyarakat setempat.

“Kehadiran Beta bukan hanya sebagai Gubernur Maluku, tetapi juga sebagai Upulatu. Beta hadir sebagai putra Lease,” ucapnya.

Ia menekankan perannya sebagai orang tua bagi seluruh masyarakat Maluku.
“Seng ada orang tua yang mau anak-anaknya bertikai. Sebagai orang tua, Katong mau anak-anak hidup rukun. Apa yang sudah terjadi, terjadi. Tadi Pak Kapolda sudah bilang, mari Katong tahan diri, mari Katong hidup bae-bae,” katanya.

Hendrik melanjutkan dengan pesan tegas sekaligus penuh harapan.
“Ini kedatangan Beta yang kedua kali di Kailolo. Jang bikin Beta datang par ketiga kali lai, dua kali cukup jua. Beta berharap saudara mangarti. Cukup sedikit kata, tapi banyak perbuatan. Kiranya Tuhan menyertai Katong semua.”

Kehadiran Kapolda Maluku dan Kapolresta Ambon di sisi Gubernur menjadi sinyal bahwa proses hukum akan berjalan transparan dan profesional. Hendrik mengingatkan, penyelesaian harus diserahkan kepada aparat berwenang agar tidak muncul balas dendam yang memperpanjang konflik.

Tak hanya berbicara di hadapan massa, Gubernur bersama rombongan Forkopimda juga menyempatkan diri mengunjungi keluarga korban dari Negeri Kabauw yang meninggal dunia. Suasana haru menyelimuti ketika ia berdiri di tengah keluarga yang berurai air mata.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Maluku Tengah, kami menyampaikan turut berbelangkasukawa yang sedalam-dalamnya,” ucap Hendrik dengan suara bergetar.

“Kami datang bukan sekadar melihat, tetapi untuk memberi dukungan moral. Keluarga yang berduka diberi kekuatan. Ini bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Apa yang keluarga rasakan, itu juga yang kami rasakan.”

Dalam kesempatan itu, ia menyerahkan santunan sebagai wujud kepedulian pemerintah. Gestur sederhana namun sarat makna itu menjadi pengingat bahwa negara hadir bukan hanya untuk menenangkan, melainkan juga mendampingi rakyat di tengah luka.(*)