Risk Management Update 2025: Jasa Raharja Tingkatkan Budaya Sadar Risiko di Internal

oleh -214 Dilihat

Jakarta,—Suaratimurnews.com Sebagai upaya memperkuat tata kelola dan budaya sadar risiko di lingkungan internal, Jasa Raharja menggelar acara Risk Management
Update pada Jumat, 4 Juli 2025, bertempat di Kantor Pusat Jasa Raharja, Jakarta.

Kegiatan yang mengangkat tema “Empowering People, Strengthening Risk Culture: Dari Kesadaran Menuju Ketangguhan” ini dihadiri oleh para kepala unit kerja, kepala kantor wilayah, dan kepala cabang Jasa Raharja, baik secara luring maupun daring.

Apalagi kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya manajemen risiko dalam mendukung pencapaian visi perusahaan sebagai penyelenggara perlindungan dasar yang kompeten dan terpercaya.

Melalui forum ini, Jasa Raharja mendorong seluruh insan perusahaan untuk memahami konsep risiko serta menerapkannya dalam praktik kerja sehari-hari.

Dalam sambutannya, Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko Jasa Raharja
Harwan Muldidarmawan menegaskan bahwa penguatan budaya sadar risiko
menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan organisasi, khususnya dalam menghadapi dinamika lingkungan eksternal yang penuh ketidakpastian.

Ia juga menekankan perlunya kewaspadaan terhadap risiko kecurangan (fraud), baik yang bersumber dari faktor internal maupun eksternal.

“Tentunya tidak lepas dari fenomena yang akhir-akhir ini kita hadapi. Saat ada
sebuah kondisi, maka perlu dilakukan identifikasi dan analisa serta diambil langkah mitigasinya, yang paling kita hindari untuk menjaga kepercayaan para stakeholder adalah risiko fraud.

Untuk itu kami mengajak semua untuk menyelami pembahasan hari ini mengenai pemahaman risiko fraud dan ciri-cirinya, faktor pemicu internal fraud itu apa saja, begitu juga faktor eksternal. Tak bisa kita pungkiri kadang dari eksternal itu mengajak dan mempengaruhi untuk kita melakukan fraud,” ujar Harwan.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak dari tindakan fraud tidak hanya bersifat
individual, tetapi juga dapat merusak reputasi dan keberlangsungan organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Oleh karena itu, Harwan mendorong
insan Jasa Raharja untuk menjaga integritas pribadi dan profesional, serta
mengimplementasikan prinsip manajemen risiko dalam seluruh lini aktivitas kerja.

Sebagai narasumber dalam acara ini, Kun Wahyu Wardana, ahli di bidang asuransi,
manajemen risiko, hukum, dan sumber daya manusia serta seorang penulis buku,
menggarisbawahi pentingnya peran manusia dalam efektivitas sistem manajemen
risiko.

Menurutnya, sebesar apa pun kekuatan sistem, tidak akan efektif bila tidak
didukung oleh pola pikir yang tepat dari sumber daya manusia.

“Ketika kita bicara pada key success factor-nya untuk menerapkan risk management
yang efektif adalah kembali kepada people-nya, kita berangkat kepada hal yang
sangat mendasar, yaitu risk mindset.” jelasnya.

Ia kemudian melanjutkan dengan pemaparan mengenai risiko menurut David Hillson, seorang ahli yang dikenal sebagai The Risk Doctor.

Kun menyampaikan bahwa
risiko adalah sesuatu yang alami dalam hidup. Jadi saat melakukan sesuatu, jangan
pernah berpikir tidak ada risiko sama sekali. Walaupun begitu, setiap risiko adalah
sesuatu yang dapat dikelola.

Perspektif ini penting untuk membangun ketangguhan organisasi. Alih-alih menghindari risiko, insan perusahaan perlu membangun kemampuan untuk mengelola dan mengubahnya menjadi peluang.

“Yang perlu kita yakini adalah setiap risiko itu bisa di-manage dengan baik. Dengan
menyadari ini maka kita akan mengubah perspektif bahwa risk is manageable. Ini
membuat kita tidak lagi memposisikan diri sebagai victim, tapi memikirkan
bagaimana kita mengubah situasi itu menjadi sebuah victory,” tambah Kun.

Acara ini menjadi pengingat bahwa manajemen risiko bukan sekadar alat bantu
organisasi dalam menghindari kerugian, melainkan sebuah budaya yang harus
tertanam di setiap individu di dalam perusahaan.

Dengan mengedepankan integritas,
kesadaran, dan mindset yang tangguh, Jasa Raharja berkomitmen untuk terus
memperkuat kapasitas internalnya demi menjaga kepercayaan masyarakat serta
mencapai tujuan dan visi perusahaan.(*)