Dinkes Maluku Luncurkan Integrated Island Cell System, Perkuat Tata Kelola Rujukan dan Layanan Kesehatan di Wilayah Kepulauan

oleh -12 Dilihat
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; sv:16.2.13.2.W20; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 36;

Ambon, -Suaratimurnews.com Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku melalui Dinas Kesehatan Provinsi Maluku meluncurkan inovasi Integrated Island Cell System, sebuah sistem tata kelola pelayanan kesehatan terintegrasi yang dirancang untuk memperkuat koordinasi rujukan pasien, integrasi data kesehatan, serta pemerataan pelayanan medis di wilayah kepulauan.

Inovasi tersebut diperkenalkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr. Elna Sitourisme Anakotta, Sp.M, di sela-sela puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, kawasan Karang Panjang (Karpan), Ambon, Sabtu (7/11/2026).

Elna menjelaskan, inovasi ini lahir dari kebutuhan Maluku sebagai provinsi kepulauan yang memiliki tantangan geografis, keterbatasan akses transportasi, serta persebaran fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak merata.

Menurutnya, berbagai sistem pelayanan kesehatan yang telah dikembangkan Kementerian Kesehatan sebenarnya sudah tersedia. Namun, sistem tersebut masih berjalan secara terpisah sehingga membutuhkan penguatan melalui mekanisme koordinasi terpadu.

“Kami memperkuat sistem-sistem yang sudah ada dari Kementerian Kesehatan melalui command center di Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Untuk daerah kepulauan seperti Maluku, dengan akses yang sangat terbatas, dibutuhkan satu mekanisme yang mampu mengatur tata kelola pelayanan kesehatan secara terintegrasi,” jelasnya.

Ia mengatakan, salah satu tujuan utama penerapan sistem tersebut adalah mengatasi persoalan rujukan pasien, terutama kondisi ketika pasien sudah tiba di rumah sakit tujuan, tetapi tidak mendapatkan tempat tidur karena kapasitas pelayanan penuh.

Melalui sistem ini, pasien dari kabupaten/kota, termasuk wilayah terpencil, diharapkan dapat mengetahui rumah sakit tujuan sebelum proses rujukan dilakukan.Dengan demikian, rujukan pasien dapat diarahkan berdasarkan ketersediaan fasilitas, kapasitas tempat tidur, serta layanan dokter spesialis di masing-masing rumah sakit.

“Harapan kami ke depan, tidak ada lagi pasien yang sudah dirujuk kemudian harus berteriak karena tempat tidur di rumah sakit tujuan penuh. Ketika pasien datang dari kabupaten/kota atau daerah terpencil, mereka sudah mengetahui rumah sakit mana yang akan menjadi tujuan rujukan,” ungkapnya.

Selain memperkuat sistem rujukan, Integrated Island Cell System juga diarahkan untuk membangun integrasi data kesehatan secara real time.

Elna mengakui, ketersediaan dan keterpaduan data kesehatan masih menjadi tantangan di Maluku. Karena itu, keberadaan command center di tingkat provinsi diharapkan memungkinkan Dinas Kesehatan memperoleh informasi langsung dari kabupaten/kota terkait perkembangan kasus, kondisi pelayanan, hingga kebutuhan kesehatan masyarakat.

Melalui pusat kendali ini, kami berharap data kesehatan bisa lebih terintegrasi sehingga setiap hari kami dapat mengetahui secara langsung kasus apa yang terjadi di kabupaten/kota. Informasi tersebut disampaikan melalui dinas kesehatan masing-masing daerah,” katanya.

Lebih lanjut, Elna menegaskan bahwa persoalan pelayanan kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari jumlah tempat tidur di rumah sakit, tetapi juga harus memperhatikan mekanisme distribusi dan sistem rujukan pasien.

Ia menyebutkan, kapasitas tempat tidur rumah sakit di Kota Ambon pada prinsipnya dinilai cukup untuk melayani pasien dari Kota Ambon, Maluku Tengah, dan wilayah Seram bagian barat.

Namun, persoalan muncul ketika pasien dari seluruh 11 kabupaten/kota cenderung memilih rumah sakit tertentu di Kota Ambon sebagai tujuan rujukan.

Padahal, rumah sakit di kabupaten/kota lainnya juga memiliki fasilitas dan tenaga medis yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pasien.

Karena itu, sistem rujukan berjenjang melalui aplikasi Sisrute yang telah dikembangkan Kementerian Kesehatan perlu diperkuat agar distribusi pasien dapat berlangsung lebih efektif.

Elna mencontohkan, apabila satu rumah sakit mengalami keterbatasan kapasitas, pasien dapat diarahkan ke rumah sakit lain yang masih memiliki tempat tidur dan dokter spesialis sesuai kebutuhan medis.

“Kami akan membantu mengatur melalui sistem. Jadi, ketika pasien datang ke rumah sakit A dan ternyata penuh, pasien dapat diarahkan ke rumah sakit B apabila fasilitas dan dokter spesialis yang dibutuhkan tersedia,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa persoalan keterbatasan tempat tidur tidak boleh serta-merta dibebankan kepada tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan.

Menurutnya, tenaga kesehatan memiliki kewajiban memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Namun, pelayanan tersebut harus didukung sistem rujukan dan distribusi pasien yang tepat.

Dua dari Tujuh Komponen Mulai Berjalan
Elna mengungkapkan, pengembangan Integrated Island Cell System dirancang melalui tujuh komponen utama. Namun, saat ini baru dua komponen yang mulai diimplementasikan.

Komponen pertama berkaitan dengan fasilitas pelayanan kesehatan, meliputi rumah sakit dan puskesmas. Seluruh data fasilitas kesehatan tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan sistem Pusdatin serta Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

Sementara komponen kedua adalah penguatan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile health service.
Sebagai proyek percontohan (pilot project), program pelayanan kesehatan bergerak telah mulai dilaksanakan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Melalui pelaksanaan awal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku ingin mengidentifikasi berbagai persoalan nyata di lapangan, mulai dari kendala akses pelayanan, mekanisme rujukan, hingga ketersediaan tenaga kesehatan.

Elna menegaskan, inovasi tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas kesehatan dan kondisi geografis masing-masing wilayah.

Ia juga mengharapkan dukungan media massa untuk mengawal penyampaian informasi mengenai program tersebut secara akurat dan berimbang.

Kami melakukan ini secara bertahap. Karena itu, kami memohon kerja sama bapak dan ibu wartawan. Kalau ada informasi yang belum jelas, sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu agar apa yang ditulis sesuai dengan kondisi dan kenyataan di lapangan,” tandasnya.

Dengan peluncuran Integrated Island Cell System, Pemprov Maluku berharap penguatan tata kelola kesehatan tidak hanya berhenti pada integrasi teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan sistem rujukan yang lebih efektif, data kesehatan yang akurat, serta pelayanan kesehatan yang semakin mudah dijangkau masyarakat hingga wilayah terluar Maluku.(ST01)