Ambon, -Suaratimurnews.com Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku mendorong generasi muda meningkatkan literasi keuangan agar mampu mengambil keputusan investasi secara cerdas, bijak, dan sesuai profil risiko.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Kick Off Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang dirangkaikan dengan Sekolah Pasar Modal Level 1 dan 2 bagi mahasiswa di Ambon.
Kegiatan yang digelar OJK Maluku bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Provinsi Maluku dan Phillip Sekuritas Indonesia Cabang Ambon itu diikuti 190 mahasiswa dari Universitas Pattimura, Universitas Kristen Indonesia Maluku, dan Universitas Islam Negeri Ambon.5/10/2026
Mengusung tema “Secure a Better Future: Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal Indonesia, Melek Regulasi, dan Bebas Finansial”, kegiatan tersebut membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, investasi, risiko, regulasi, hingga perlindungan konsumen.
Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady mengatakan peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi masyarakat.
“Masyarakat perlu memahami dan mampu menggunakan produk keuangan secara tepat agar mengambil keputusan keuangan secara lebih mandiri dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan,” ujar Haramain.
Haramain mengatakan penguatan literasi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, naik dari 66,64% pada 2025. Sementara indeks inklusi keuangan nasional meningkat menjadi 93,61%, dari 92,74% pada tahun sebelumnya.
Di Maluku, indeks literasi keuangan tercatat 63,87%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 87,59%.
“Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya dapat mengakses produk dan layanan jasa keuangan, tetapi juga perlu memiliki pengetahuan untuk memilih dan menggunakannya secara tepat serta memahami manfaat dan risiko yang menyertainya,” kata Haramain.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperluas edukasi keuangan, khususnya kepada generasi muda yang mulai memasuki dunia kerja dan mengambil keputusan finansial secara mandiri.
Sekolah Pasar Modal Bekali Mahasiswa
Sekolah Pasar Modal Level 1 dan 2 menjadi bagian dari rangkaian BIK 2026 sekaligus kampanye World Investor Week (WIW) yang berlangsung pada 5-11 Oktober 2026.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan edukasi, kesadaran, dan perlindungan investor sekaligus mendorong masyarakat memahami investasi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Haramain menilai edukasi investasi sejak bangku kuliah penting untuk membentuk kebiasaan keuangan yang sehat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi momentum bagi para mahasiswa untuk membangun pola pikir dan kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini,” ujarnya.
Ia mengingatkan keputusan investasi tidak boleh semata-mata berorientasi pada keuntungan. Investor harus memahami tujuan keuangan, mengenali profil risiko, memilih instrumen yang sesuai, serta mewaspadai investasi ilegal dan penipuan keuangan.
“Investasi bukan sekadar tentang memperoleh keuntungan, tetapi juga mengenai bagaimana kita memahami tujuan keuangan, mengenali profil risiko, memilih instrumen investasi yang sesuai, serta menghindari berbagai bentuk investasi ilegal dan penipuan keuangan,” jelasnya.
Materi Sekolah Pasar Modal mencakup pengelolaan keuangan, kewaspadaan terhadap entitas keuangan ilegal, perlindungan data pribadi, serta pengetahuan dan keterampilan mengenai pasar modal.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai instrumen investasi, karakteristik, dan risikonya, termasuk pentingnya menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.
OJK juga mendorong perguruan tinggi menjadi bagian dari ekosistem penguatan literasi keuangan di Maluku.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga, teman sebaya, dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, mahasiswa dapat berperan sebagai agen literasi keuangan yang ikut mendorong masyarakat memahami pengelolaan keuangan dan investasi secara sehat.
Haramain menegaskan penguatan literasi dan inklusi keuangan membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara regulator, industri jasa keuangan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.
“Kami berharap sinergi OJK, Bursa Efek Indonesia, industri jasa keuangan, dan perguruan tinggi dapat diperkuat, sehingga upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Provinsi Maluku berjalan secara berkelanjutan,” kata Haramain.(*)
