BI: Maluku Kembali Deflasi 0,17% pada April 2026, Harga Ikan Jadi Penopang

oleh -20 Dilihat

Ambon,-Suaratimurnews.com Provinsi Maluku mencatat deflasi sebesar 0,17% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada April 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan deflasi pada Maret 2026 yang mencapai 0,75% (mtm).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Dhita Aditya Nugraha, dalam penjelasan rilis , Senin (4/5/2026), menyampaikan bahwa tekanan deflasi terutama bersumber dari penurunan harga komoditas pangan, khususnya hasil perikanan.

Secara spasial, deflasi terdalam tercatat di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 1,96% (mtm). Namun demikian, laju deflasi tertahan oleh inflasi di Kota Ambon sebesar 0,92% (mtm) dan Kota Tual sebesar 0,64% (mtm).

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Maluku tercatat sebesar 3,13%, masih berada dalam rentang target nasional 2,5±1%. Meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,40% (yoy), angka ini masih lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 2,42% (yoy).

Dari sisi kelompok pengeluaran, deflasi April terutama didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,61% (mtm), serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,05% (mtm).

Penurunan harga pada kelompok makanan dipicu oleh turunnya harga komoditas perikanan seperti ikan selar, ikan layang, dan ikan cakalang, dengan masing-masing andil deflasi sebesar 0,19%, 0,17%, dan 0,17%.

Kondisi ini didukung oleh cuaca maritim yang relatif kondusif sehingga meningkatkan hasil tangkapan nelayan.

Sementara itu, deflasi pada kelompok perawatan pribadi dipengaruhi oleh penurunan harga emas di pasar global.

Di sisi lain, laju deflasi tertahan oleh inflasi pada Kelompok Transportasi, seiring kenaikan harga avtur yang berlaku sejak 1 April 2026 dan berdampak pada penyesuaian tarif angkutan udara.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku, lanjut Dhita, terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Upaya tersebut difokuskan pada empat pilar utama (4K), yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sejumlah langkah konkret yang dilakukan antara lain pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah, peningkatan target penyerapan beras petani hingga 5.000 ton di tengah kenaikan luas tambah tanam padi yang mencapai 84,47% per April 2026, serta penguatan produksi pangan lokal melalui panen bawang merah di Kota Tual dan panen jagung seluas 3 hektare di Kabupaten Maluku Tengah.

Selain itu, TPID juga terus melakukan pemantauan rutin terhadap stok dan harga bahan kebutuhan pokok di tingkat distributor guna menjaga stabilitas harga ke depan.(*)