Ambon,–Suaratimurnews.com Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Ambon pada 2025 belum mencapai target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Meski demikian, kondisi ekonomi daerah dinilai masih berada pada jalur yang stabil dan terkendali.
Pertumbuhan ekonomi Ambon tercatat sebesar 4,87 persen atau mengalami penurunan 1,09 persen dibandingkan tahun 2024. Dari sisi permintaan, terjadi peningkatan pada komponen konsumsi rumah tangga, terutama menjelang perayaan Idulfitri. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal positif karena menunjukkan daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Bodewin menegaskan, tingginya aktivitas belanja masyarakat saat hari raya tidak serta-merta menjadi pemicu inflasi. Sebaliknya, ia menilai rendahnya aktivitas konsumsi justru menjadi indikator melemahnya kondisi ekonomi.
“Yang perlu kita khawatirkan bukan masyarakat banyak berbelanja, tetapi jika masyarakat tidak berbelanja sama sekali. Itu menandakan kondisi ekonomi yang memprihatinkan,” ujarnya dalam rapat pleno TPKAD Kota Ambon di Kantor OJK Maluku, Selasa (14/4/2026).
Dari sisi inflasi, pada awal 2026 sempat terjadi kenaikan yang cukup signifikan. Namun setelah dianalisis, lonjakan tersebut lebih dipengaruhi faktor kebijakan pemerintah atau administered prices, seperti penyesuaian tarif transportasi udara, harga tiket pesawat, tarif listrik, serta kenaikan harga emas.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok masyarakat relatif stabil dan tidak memberikan tekanan besar terhadap inflasi. Pada Maret 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,18 persen, dengan inflasi bulanan sebesar 0,43 persen dan inflasi inti sekitar 0,03 persen.
Angka tersebut masih berada dalam rentang target pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen. Dengan kondisi tersebut, inflasi di Kota Ambon dinilai masih terkendali dan tidak menimbulkan kekhawatiran berarti.
Pemerintah berharap daya beli masyarakat tetap terjaga guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.(*)

