Michael Wattimena Dorong Kesiapan SDM dan Pemda Sambut Pengembangan Blok Masela

oleh -9 Dilihat

Ambon,-Suaratimurnews.com Pengembangan Blok Masela di Maluku dinilai tidak boleh berhenti pada target investasi dan produksi gas. Pemerintah daerah dan masyarakat lokal harus mulai menyiapkan sumber daya manusia (SDM) serta ekosistem ekonomi agar manfaat proyek strategis tersebut benar-benar dirasakan masyarakat Maluku.

Hal itu mengemuka dalam Maluku Pride Talks bertajuk “Blok Masela, Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Maluku dan Kedaulatan Energi Indonesia” yang digelar di Don-C, Jalan Sultan Babullah Nomor 66A, Kota Ambon, Senin (7/9/2026).

Komisaris PT Pertamina International Shipping sekaligus Tenaga Ahli Menteri ESDM, Dr. Michael Wattimena, SE., SH., MM., mengatakan kesiapan daerah menjadi faktor penting dalam menyambut pengembangan Blok Masela.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu lebih aktif mengikuti berbagai forum pembahasan agar kepentingan masyarakat Maluku dapat masuk dalam proses pengembangan proyek.

“Semestinya pemerintah daerah provinsi juga hadir untuk memberikan pertanyaan-pertanyaannya, sehingga ada keseimbangan dan teman-teman bisa menjawab berbagai hal yang berkaitan dengan progres Blok Masela,” ujar Wattimena.

Wattimena menilai salah satu pekerjaan rumah terbesar Maluku adalah menyiapkan tenaga kerja lokal yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri migas.

Ia menyebut sejumlah anak Maluku telah mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan kebutuhan industri migas. Sekitar 30–35 orang disebut telah memperoleh pendidikan dan pelatihan tersebut.

Menurutnya, mereka merupakan modal awal yang harus terus didorong agar memiliki kesempatan terlibat ketika pengembangan Blok Masela memasuki tahapan konstruksi hingga produksi.

“Kalau ada mereka yang masih belum terlibat dalam K3S, sampaikan kepada kami. Kami akan dorong kepada Kepala SKK Migas,” katanya.

Ia menekankan, peningkatan kompetensi tidak boleh dilakukan ketika proyek sudah berjalan. Persiapan harus dimulai sejak sekarang sehingga kebutuhan tenaga kerja terampil nantinya dapat dipenuhi oleh SDM lokal.

Selain SDM, Wattimena menyoroti pentingnya memastikan masyarakat di sekitar wilayah proyek memperoleh manfaat ekonomi.
Persoalan tanah, harga kebutuhan pokok, kesiapan masyarakat, hingga peluang usaha lokal dinilai perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

Menurut dia, kondisi masyarakat dan status lahan di setiap wilayah tidak selalu sama. Karena itu, penyelesaiannya harus dilakukan secara proporsional dan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.Ini menjadi catatan kritis. Tidak semua proses dan kondisi masyarakat itu seragam,” ujarnya.

Wattimena mengingatkan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton ketika proyek migas berskala besar mulai beroperasi.
Keterlibatan masyarakat, kata dia, harus dibangun melalui peningkatan kapasitas SDM, peluang kerja, pengembangan usaha lokal, serta keterlibatan dalam rantai pasok industri.

Pengembangan Blok Masela dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu penggerak ekonomi baru Maluku.
Namun, peluang tersebut tidak akan otomatis memberikan dampak maksimal apabila daerah tidak menyiapkan ekosistem pendukung.

Mulai dari pendidikan dan pelatihan, infrastruktur, investasi, kesiapan pemerintah daerah, hingga kapasitas pelaku usaha lokal perlu dipersiapkan secara terintegrasi.

Wattimena mengatakan pemerintah pusat juga memberikan perhatian terhadap pengembangan kawasan tersebut. Karena itu, masyarakat diminta tidak berlebihan dalam menyikapi berbagai perkembangan, namun tetap melakukan pengawasan secara kritis.

“Tidak usah terlalu khawatir. Kita akan cek juga kepada Kepala SKK Migas sampai sejauh mana mereka yang sudah sekolah dan mendapatkan pelatihan itu bisa dipersiapkan,” katanya.

Menurut Wattimena, kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian khusus akan semakin meningkat seiring masuknya proyek ke tahapan pengembangan berikutnya.

Karena itu, Maluku harus bergerak lebih cepat menyiapkan SDM agar ketika industri migas berkembang, masyarakat lokal telah memiliki kemampuan dan pengalaman yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, tantangan Blok Masela bagi Maluku bukan sekadar bagaimana gas diproduksi dan investasi masuk. Tantangan terbesarnya adalah memastikan kekayaan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas SDM, membuka peluang usaha, serta menggerakkan ekonomi masyarakat Maluku.(ST01)