BEI Maluku Dorong Literasi Pasar Modal yang Berkualitas dan Inklusif

oleh -12 Dilihat

Ambon, -Suaratimurnews.com Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Maluku terus mendorong masyarakat untuk mengenal dan memahami investasi pasar modal sejak dini. Edukasi dinilai penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi investor, tetapi juga memahami produk investasi dan risiko yang dihadapi.

Hal tersebut disampaikan Plt Kepala Perwakilan BEI Maluku Rahma Salampessy dalam Media Gathering BEI Kantor Perwakilan Maluku bertema “Sinergi Cerdas Media dan Bursa Efek Indonesia Wujudkan Literasi Pasar Modal yang Berkualitas dan Inklusif di Maluku”, yang berlangsung di Biz Hotel Ambon, Senin (24/8/2026).

Rahma mengatakan, upaya meningkatkan jumlah investor di Maluku harus dibarengi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk pasar modal.

“Tujuannya supaya masyarakat bisa paham. Karena investasi itu sebenarnya memiliki risiko, terutama kalau kita tidak tahu produk apa yang kita pilih,” ujar Rahma.

Menurutnya, BEI Maluku terus memperkuat kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dengan mendorong calon investor untuk belajar terlebih dahulu melalui berbagai fasilitas dan aplikasi yang tersedia sebelum benar-benar berinvestasi.

Rahma menjelaskan, masyarakat juga dapat memulai investasi dengan nominal yang relatif kecil. Dengan demikian, masyarakat dapat belajar memahami mekanisme pasar modal sekaligus membangun kebiasaan berinvestasi.

“Bapak dan Ibu bisa coba dulu, belajar dulu di dalam aplikasinya. Kemudian bisa mulai dari nominal kecil, misalnya Rp50 ribu atau Rp100 ribu. Yang penting kuncinya adalah pelajari produk yang akan dipilih,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rahma juga menyoroti perkembangan jumlah investor pasar modal di Maluku dan Maluku Utara.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pertumbuhan jumlah investor di Maluku Utara mencapai sekitar 55 persen, sementara pertumbuhan investor di Maluku berada di kisaran 43 persen.

Menurut Rahma, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat di masing-masing daerah.Untuk Maluku Utara, konsentrasi investor cukup banyak berada di Kota Ternate dan wilayah Halmahera.

Pertumbuhan aktivitas ekonomi, termasuk sektor pertambangan di Halmahera, turut menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan pasar modal di wilayah tersebut.

Meski demikian, BEI Maluku masih melihat ruang pertumbuhan yang sangat besar, khususnya dalam meningkatkan jumlah investor sekaligus kualitas pemahaman masyarakat.

Maluku-Papua Masih di Bawah 1 Persen
Rahma menambahkan, secara nasional kontribusi investor dari kawasan Maluku dan Papua masih relatif kecil.

Dari sekitar 30 juta investor pasar modal secara nasional, kontribusi Maluku dan Papua disebut masih kurang dari 1 persen.
“Kami terus mendorong kegiatan edukasi. Harapannya tentu jumlahnya bisa jauh lebih banyak lagi,” ujarnya.

Karena itu, BEI Maluku menilai sinergi dengan pemerintah, media, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting untuk memperluas literasi pasar modal.

Media juga dinilai memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi investasi yang benar, mudah dipahami, dan tidak menyesatkan masyarakat.

“Ini menjadi bagian dari upaya kami bersinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak lainnya untuk meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal,” kata Rahma.

BEI Maluku menekankan bahwa peningkatan jumlah investor tidak boleh hanya dilihat dari sisi kuantitas. Masyarakat harus dibekali pemahaman mengenai karakteristik produk, potensi keuntungan, serta risiko dari setiap instrumen investasi.

Dengan edukasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan investasi secara lebih rasional dan sesuai dengan kemampuan serta profil risikonya.

BEI Maluku pun mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru mengejar keuntungan, tetapi terlebih dahulu memahami produk investasi yang dipilih.Pelajari produknya terlebih dahulu. Jangan hanya melihat keuntungan, tetapi juga pahami risikonya,” tegas Rahma.(ST01)