SBB–Suaratimurnews.com Akses jalan yang terbatas tak menyurutkan langkah warga Desa Neniari, pedalaman Pulau Seram, untuk membangun kemandirian pangan. Dipimpin tokoh muda Jodis Rumasoal, masyarakat setempat menggarap lahan pertanian secara kolektif guna memperkuat ketahanan pangan desa.
Jodis mengatakan, sedikitnya 101 hektar lahan disiapkan untuk ditanami padi gogo dan jagung hibrida. Selain itu, warga juga mengembangkan tanaman pangan lokal seperti keladi, kasbi, labu, labu siam, wortel, kol, bawang merah, dan komoditas hortikultura lainnya.
“Ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada pasokan dari luar. Desa harus mampu memproduksi kebutuhan dasarnya sendiri,” kata Jodis di Neniari, pekan ini.
Gerakan tersebut melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, serta dukungan teknis dari Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Di Desa Neniari Gunung, 10 kelompok tani telah mengelola sekitar 15 hektar lahan yang kini memasuki masa panen padi dan jagung.
Ekspansi lahan juga dilakukan di sejumlah desa sekitar, antara lain 4 hektar di Desa Riring, 2 hektar di Desa Uweth, 2 hektar di Desa Buria, 10 hektar di Desa Neniari Piru, dan 2 hektar di Desa Taniwel. Di wilayah Taniwel dan Taniwel Timur, dibentuk 10 kelompok tani untuk mengelola lahan seluas 10 hektar berdasarkan usulan pemerintah desa setempat.
Dari total target 101 hektar, sekitar 20 hektar dikelola langsung kelompok tani, sementara lebih dari 60 hektar lainnya digarap oleh organisasi desa dan keluarga-keluarga secara swadaya.
Pemerintah Kabupaten SBB dan Pemerintah Provinsi Maluku menyatakan dukungan terhadap inisiatif tersebut. Bantuan yang direncanakan meliputi mesin penggilingan padi, mesin pemecah jagung, serta pupuk dan peralatan pertanian.
Jodis berharap program ini tidak hanya menjawab kebutuhan pangan jangka pendek, tetapi juga memperkuat ekonomi warga dalam jangka panjang. “Ini bukan sekadar tanam dan panen. Ini tentang membangun masa depan desa,” ujarnya.(OP)

