Makassar –Suaratimurnews.com Kain tenun lokal kembali mencuri perhatian setelah Tenun Fenisa 05 asal Makassar mengajak perajin tenun dari Maluku untuk berkolaborasi. Ajakan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing kain tenun Nusantara di pasar nasional maupun internasional.
Pemilik Tenun Fenisa 05, Lindayati, mengungkapkan bahwa bisnis tenun yang ia rintis berkembang berkat keaktifannya mengikuti berbagai pameran dan kegiatan yang digelar pemerintah daerah.
“Waktu itu saya ikut kunjungan ke rumah Ibu Gubernur. Dari situ saya berpikir, ini bisa menjadi lebih besar kalau kita saling mengenalkan produk. Alhamdulillah, saya juga pernah ikut kegiatan Dekranasda, bahkan barang saya pernah dibeli oleh Ibu Menteri dan kolektor dari Jakarta,” ujar Lindayati saat ditemui di rumah produksinya di Jalan Telegraf 3C Nomor 53, Telkomas, Makassar, Kamis (9/10/2025).
Beberapa hasil karyanya bahkan sudah menembus pasar kolektor dengan harga tinggi.
“Yang seperti ini pernah dibeli kolektor seharga Rp10 juta tahun 2020. Ibu Laksamana Sukardi juga pernah beli, bahkan yang lawas itu bisa sampai Rp25 juta–Rp27 juta,” kata Lindayati.
Menurutnya, setiap daerah memiliki kekhasan dan potensi tersendiri, sehingga kolaborasi antardaerah menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi kain tenun Indonesia.
“Kita jangan bersaing, tapi saling mendukung. Kalau bisa, kolaborasi agar sama-sama maju, berkembang, dan dikenal orang banyak,” ujarnya.
Lindayati juga telah berkolaborasi dengan desainer asal Maluku dan sempat menampilkan hasil karya bersama dalam ajang BI SAFE 2021 di Jakarta.
“Saya tampil di fashion show itu hasil kolaborasi. Di layar muncul tulisan Fenisa 05, dan itu jadi kebanggaan tersendiri,” tuturnya.
Kini, produk Tenun Fenisa 05 kerap menjadi pilihan suvenir bagi berbagai instansi pemerintah dan swasta.
Apalagi banyak instansi biasanya pesan syal atau kain. Harganya mulai Rp1,5 juta, tapi kalau dari Pertamina bisa sampai Rp6–7 juta untuk suvenir,” jelasnya.
Bagi Lindayati, kemasan dan storytelling menjadi kunci penting dalam menarik minat pembeli.
“Kalau ikut pameran, harus bisa bercerita tentang produk. Cerita itu penting, karena memberi makna pada setiap kain yang dijual,” katanya.
Ia mengenang satu pengalaman lucu namun berkesan ketika mengirim pesanan ke Jakarta.
“Dulu saya kirim pesanan Ibu Laksamana Sukardi pakai dus Aqua. Sampai di Jakarta langsung ditelepon, ‘Kok binaan BI pakai dus begini?’ Akhirnya BI bantu buatkan paper bag dan desain kemasan yang lebih layak,” ucapnya sambil tertawa.
Berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, Tenun Fenisa 05 kini semakin mantap mengembangkan produknya dengan standar yang lebih tinggi.
“Kalau kemasan bagus dan ada cerita di baliknya, produk kita bisa dihargai lebih tinggi,” pungkasnya.(ST01)

