Michael Wattimena Kenang Perjuangan Bangun Jembatan Merah Putih, Dorong Mahasiswa Unpatti Berani Bersaing di Tingkat Nasional

oleh -28 Dilihat
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; sv:16.2.13.2.W20; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 34;

Ambon, -Suaratimurnews.com Dr. Michael Wattimena, SE., SH., MM., membagikan pengalaman perjalanan karier, perjuangan pembangunan infrastruktur strategis, hingga pentingnya membangun jejaring dan kepemimpinan kepada mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti).

Pengalaman tersebut disampaikan Michael dalam kegiatan IKAPATTI Alumni Inspire: Sharing Session bersama Alumni Inspiratif, yang membahas pengalaman karier, dunia kerja, kewirausahaan, dan peluang profesional. Kegiatan berlangsung di Auditorium Universitas Pattimura, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Michael turut mengenang keterlibatannya dalam perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) di Ambon. Ia mengungkapkan, dirinya ikut mengawal proses pembangunan infrastruktur strategis tersebut sejak peletakan batu pertama pada 2011, saat menjabat sebagai pimpinan Komisi V DPR RI.

Saat itu, ia berharap pembangunan jembatan dapat diselesaikan dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum mengakhiri masa jabatan pada 2014. Namun, sejumlah dinamika teknis dan pertimbangan keamanan membuat proses penyelesaiannya membutuhkan waktu lebih panjang.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah aspek keselamatan pelayaran kapal perang TNI Angkatan Laut yang melintasi kawasan tersebut.Setelah melalui berbagai pembahasan dan proses penyelesaian, Jembatan Merah Putih akhirnya diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2016.

Michael juga mengenang momen berkesan ketika dirinya mendapat panggilan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk naik ke podium saat prosesi peresmian jembatan tersebut.

Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa bahwa latar belakang pendidikan maupun asal daerah tidak boleh menjadi alasan untuk merasa rendah diri ketika berhadapan dengan siapa pun.

Ia ingin menunjukkan bahwa alumni Universitas Pattimura memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam agenda pembangunan nasional, bahkan berada di ruang-ruang strategis pengambilan keputusan negara.

Selain pendidikan formal, Michael juga menekankan pentingnya mahasiswa aktif dalam berbagai organisasi, baik di lingkungan kampus maupun organisasi ekstra kampus.
Ia membagikan pengalaman ketika aktif dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, organisasi merupakan ruang pembelajaran yang efektif untuk membangun kepemimpinan, kedisiplinan, kemampuan komunikasi, serta keberanian menyampaikan gagasan.

Michael turut mengisahkan pengalamannya mengikuti kongres organisasi pada 1992. Saat itu, ia sempat memiliki pandangan bahwa mahasiswa dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi mempunyai kemampuan yang sulit disaingi.

Namun, setelah terlibat langsung dalam forum tersebut, ia menyadari bahwa mahasiswa asal Maluku juga memiliki kapasitas dan kemampuan untuk bersaing dengan mahasiswa dari daerah lain.

Pengalaman itu mengubah cara pandangnya sekaligus memperkuat keyakinan bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh asal daerah, melainkan oleh kemauan belajar, proses pembentukan karakter, dan keberanian mengambil kesempatan.

Ia menilai pola kaderisasi, pendidikan organisasi, serta kedisiplinan dalam menjalankan konstitusi organisasi merupakan bekal penting dalam membentuk karakter kepemimpinan.

Bahkan, pengalaman berorganisasi tersebut membuka ruang pergaulan dan jejaring yang kemudian mendukung perjalanan kariernya hingga dapat berinteraksi dengan berbagai tokoh nasional, termasuk di lingkungan pemerintahan dan sektor energi.

Menutup pemaparannya, Michael mengajak mahasiswa Universitas Pattimura agar tidak ragu mengembangkan potensi diri, memperluas pergaulan, dan memanfaatkan masa perkuliahan untuk membangun kapasitas serta karakter.

Ia mengingatkan bahwa mahasiswa Maluku harus berani bermimpi besar, siap menghadapi tantangan, tetap menjaga identitas dan akar budaya, serta membuktikan bahwa anak-anak daerah mampu memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang kehidupan.

Menurutnya, kesempatan untuk berkembang dan meraih keberhasilan terbuka bagi siapa saja yang mau mempersiapkan diri, membangun kompetensi, serta berani mengambil peluang.

Kesuksesan sejati, lanjutnya, bukan semata-mata diukur dari seberapa tinggi seseorang mencapai puncak karier, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada keluarga, masyarakat, daerah, dan bangsa.

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi mahasiswa Unpatti bahwa almamater dan asal daerah bukanlah batas untuk meraih cita-cita, melainkan identitas dan kekuatan untuk mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia.(ST01)