Produk Kriya Maluku Curi Perhatian di KKI, Tenun Pewarna Alami Tembus Pasar Ekspor

oleh -12 Dilihat

Jakarta, -Suaratimurnews.com Produk karya seni kerajinan tangan (kriya) asal Maluku mencuri perhatian dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Beragam produk unggulan Maluku dipamerkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari kain tenun, baju cele, kemeja, tas, hingga aksesori berbahan mutiara.

Salah satu produk yang menarik perhatian adalah kain tenun Maluku dengan pewarna alami. Pelaku UMKM tenun asal Ambon, Lucy Kurmasela, mengatakan minat masyarakat terhadap produk berbahan pewarna alami terus meningkat.

“Peminate untuk pewarnaan alam memang lumayan tinggi dibandingkan yang sintetis. Sekarang pasarnya mungkin memang sudah ke pewarnaan alam,” kata Lucy.

Usaha tenun miliknya berbasis di Ambon. Seluruh proses produksi dilakukan di Maluku. Pihaknya juga mulai membudidayakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami.

Salah satunya daun nila yang digunakan untuk menghasilkan warna biru.Namun, penggunaan pewarna alami membuat proses produksi membutuhkan waktu lebih panjang.

Untuk menghasilkan satu lembar kain berukuran sekitar 2 x 1 meter, prosesnya dapat memakan waktu hingga dua sampai tiga minggu.”Proses pewarnaannya memang lama banget,” ujarnya.

Kain tenun pewarna alami tersebut dijual sekitar Rp3,5 juta per lembar. Produk itu tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menerima pesanan dari luar negeri, di antaranya Belanda dan Singapura.

Meski permintaan cukup tinggi, pelaku UMKM masih menghadapi kendala ketersediaan bahan baku. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika kapasitas produksi harus ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pasar.

Lucy mengatakan penguatan pasar produk budaya lokal juga membutuhkan dukungan masyarakat Maluku sendiri. Dia mengajak masyarakat menggunakan produk lokal agar warisan budaya tetap hidup.Kalau bukan orang Maluku yang mengenakan, siapa lagi,” katanya.

Lucy juga mengapresiasi pembinaan Bank Indonesia yang selama sekitar lima tahun membantu pelaku UMKM Maluku meningkatkan kapasitas sekaligus membuka akses pasar.

Pameran KKI menjadi momentum bagi kain tenun pewarna alami, baju cele, kemeja, tas, dan kerajinan mutiara Maluku untuk menunjukkan potensi ekonomi kreatif dari kawasan timur Indonesia.

Sementara itu Pengunjung KKI asal Jakarta, Cindi, menilai keikutsertaan UMKM Maluku dalam KKI menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.

Menurut dia, produk kerajinan dan tenun Maluku memiliki kualitas serta motif yang mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Dari Maluku sendiri, kegiatan Karya Kreatif Indonesia ini sangat membantu. Orang-orang dari luar Maluku bisa melihat betapa bagusnya produk, mulai dari crafting hingga motifnya,” kata Cindi.

Dia berharap produk kreatif Maluku dapat terus berkembang dan memiliki akses yang lebih luas ke pasar ekspor.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku, Rakhmat Pratama, mengatakan UMKM Maluku yang tampil dalam KKI telah melalui proses kurasi tingkat nasional.
“UMKM yang tampil di sini memang sudah lolos kurasi nasional,” ujar Rakhmat.

Menurut Rakhmat, kurasi dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari kualitas produk, cerita di balik produk, kapasitas produksi, hingga keunikan yang menjadi ciri khas daerah.Untuk produk wastra, cerita mengenai kain dan motif menjadi salah satu bagian penting dalam penilaian.

“Story-nya, kainnya, motif-motifnya, mutunya, kemudian jumlah produksinya, dan keunikan atau ciri khas dari Maluku,” katanya.

Terbatasnya slot pameran membuat tidak seluruh UMKM dapat tampil. Karena itu, proses kurasi dilakukan untuk memilih produk yang memenuhi standar yang ditetapkan panitia nasional.

Rakhmat menyebut masih banyak UMKM di Maluku, termasuk dari Tual dan daerah lainnya, yang memiliki produk serta cerita yang berpotensi dikembangkan.

Kurasi Dimulai Sejak Awal Tahun
BI Maluku telah melakukan penjaringan dan kurasi UMKM sejak awal tahun. Pelaku usaha dengan produk potensial dijaring, termasuk melalui media sosial.BI menghadirkan kurator nasional untuk menilai produk-produk tersebut.

“Kalau memang sudah memenuhi syarat minimal, tentunya kita akan kembangkan lagi supaya nanti kita bisa dorong untuk memenuhi syarat tingkat nasional,” kata Rakhmat.

Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing UMKM Maluku agar produk lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar nasional, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar ekspor.

Keikutsertaan dalam KKI sekaligus menunjukkan bahwa produk kriya Maluku memiliki kekuatan pada kualitas, motif, cerita budaya, serta keunikan bahan dan proses produksinya.

Dengan dukungan pembinaan, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan akses pasar, produk kriya Maluku diharapkan semakin dikenal dan mampu membawa identitas budaya Maluku ke pasar nasional hingga mancanegara.(ST01)