OJK Gencarkan Literasi Kripto di Universitas Pattimura Ambon, Ingatkan Risiko Tinggi Investasi Digital

oleh -33 Dilihat

Ambon,-Suaratimurnews.com Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan digital, khususnya di kalangan generasi muda, agar lebih memahami risiko investasi aset digital dan kripto secara aman, rasional, dan bertanggung jawab.

Hal ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) di Aula Rektorat Universitas Pattimura, Senin (4/5/2026).

“Perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Masih banyak masyarakat terjebak investasi ilegal, penipuan digital, hingga kehilangan aset akibat rendahnya kesadaran keamanan digital,” ujar Adi.

Ia menegaskan, sektor keuangan digital saat ini menawarkan peluang besar, namun juga diiringi berbagai risiko seperti volatilitas harga ekstrem, ancaman keamanan siber, perubahan regulasi, hingga faktor psikologis investor.

Menurutnya, karakter aset kripto yang high risk high return menuntut masyarakat tidak sekadar mengikuti tren, melainkan memahami fundamental dan mekanisme instrumen tersebut sebelum berinvestasi.

Adi juga mengungkapkan, perkembangan aset kripto di Indonesia menunjukkan tren signifikan. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto telah melampaui 21 juta pengguna.

Sementara itu, nilai transaksi sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp482,23 triliun, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap aset digital.

Dalam konteks ini, mahasiswa dinilai memiliki peran strategis sebagai agen literasi untuk mengedukasi masyarakat, sekaligus membantu menekan potensi kerugian akibat investasi ilegal.

Pemilihan Ambon sebagai lokasi kegiatan DFL yang merupakan bagian dari Bulan Literasi Kripto (BLK) bertujuan mendorong pemerataan edukasi di Indonesia Timur.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, Maluku masih menghadapi kesenjangan cukup besar, dengan indeks inklusi keuangan sebesar 81,04% dan literasi keuangan baru mencapai 40,78%.

Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi seperti ini penting untuk membekali mahasiswa menghadapi dinamika cepat sektor keuangan digital.

“Perubahan di sektor keuangan bahkan melampaui kecepatan regulasi. Generasi muda perlu dibekali pemahaman agar mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak,” katanya.

Kuliah umum ini juga menghadirkan sejumlah pelaku industri, antara lain perwakilan Indonesia Crypto Exchange (ICEX), PT Kripto Maksima Koin, dan PT Multikripto Exchange Indonesia.

Kegiatan yang diikuti sekitar 400 peserta ini turut dihadiri pejabat OJK dari berbagai wilayah serta Asosiasi Blockchain Indonesia.

Melalui program DFL, OJK memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mendorong masyarakat semakin cerdas secara finansial, aman secara digital, dan lebih matang dalam menghadapi instrumen investasi berisiko tinggi.(*)