Perbankan Maluku Tumbuh Positif, Risiko Tetap Terkendali

oleh -79 Dilihat

Ambon,-Suaratimurnews.com Kinerja perbankan di Provinsi Maluku pada awal 2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif dengan tingkat risiko yang tetap terjaga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku mencatat, hingga Januari 2026 total aset perbankan di daerah ini mencapai Rp33,98 triliun atau tumbuh 7,11 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp16,98 triliun serta penyaluran kredit sebesar Rp19,48 triliun.

Kepala OJK Provinsi Maluku, Andi Muhammad Jusuf, mengatakan perkembangan tersebut mencerminkan aktivitas intermediasi perbankan yang tetap berjalan baik di wilayah Maluku.

“Pertumbuhan ini menunjukkan sektor perbankan di Maluku tetap solid dengan tingkat risiko yang masih terjaga,” ujar Andi dalam kegiatan Media Bastori di Ambon, Rabu.

Komposisi DPK perbankan di Maluku didominasi oleh dana murah atau current account saving account (CASA) yang berasal dari tabungan dan giro dengan porsi sebesar 70,14 persen. Sementara dari sisi penyaluran kredit, kredit konsumtif masih mendominasi dengan pangsa sebesar 63,19 persen dari total kredit.

OJK juga mencatat dukungan pembiayaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus berjalan. Hingga Desember 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp1,03 triliun yang disalurkan kepada 21.840 pelaku UMKM di Maluku.

Dari sisi kualitas kredit, kondisi perbankan dinilai tetap sehat dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,82 persen.

Pada sektor perbankan syariah, pertumbuhan pembiayaan tercatat cukup tinggi, yakni 20,54 persen secara tahunan. Meski demikian, pangsa aset perbankan syariah masih relatif kecil, yakni 3,03 persen dari total aset perbankan di Maluku. Adapun tingkat pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) tetap rendah di level 0,86 persen.

Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp1,35 triliun dengan tingkat pembiayaan bermasalah sebesar 2,43 persen. Sementara itu, premi asuransi jiwa tercatat menurun 7,75 persen dan premi asuransi umum turun 13,21 persen secara tahunan.

Pada sektor pembiayaan ultra mikro, program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp283,10 miliar kepada 53.038 nasabah perempuan. Program Ultra Mikro (ULaMM) juga mencatat penyaluran sebesar Rp14,46 miliar atau tumbuh 34,76 persen.

Selain itu, Bank Wakaf Mikro tercatat telah menyalurkan pembiayaan kepada 121 nasabah di Maluku.Di sisi lain, perkembangan layanan keuangan digital juga menunjukkan tren meningkat. Outstanding pinjaman peer-to-peer lending mencapai Rp220,92 miliar dan menjangkau 33.426 peminjam.

Sementara pada sektor pasar modal, jumlah investor di Maluku tercatat mencapai 64.461 single investor identification (SID) atau tumbuh 21,60 persen secara tahunan. Nilai transaksi saham juga meningkat signifikan sebesar 52,51 persen menjadi Rp680,07 miliar. (ST01)