RSUD Blambangan Diduga Disusupi “Dokter Aspal” Selama 4 Tahun

0
3013

Foto: RSUD Blambangan Banyuwangi

SUARATIMURNEWS.COM (BANYUWANGI) – Ramainya kabar adanya dugaan oknum dokter “palsu” di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Blambangan Banyuwangi ramai dibicarakan di kalangan pegawai rumah sakit. Kabar ini terkuak setelah adanya akreditasi kenaikan kelas dari rumah sakit kelas C menjadi rumah sakit kelas B.

Untuk memastikan kabar tersebut hoax atau bukan tim Suaratimurnews.Com langsung melakukan investigasi ke lapangan dengan melakukan wawancara kepada beberapa narasumber.

Dari hasil wawancara tersebut diketahui, oknum dokter berinisial ADW pernah bekerja sebagai dokter tenaga kontrak di RSUD Blambangan sebagai dokter umum di Instalasi Unit Gawat Darurat (UGD) selama kurang lebih 4 sd 5 tahun lamanya. Namun saat ini sudah resign alias berhenti dan tidak lagi bekerja di RSUD Blambangan.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Suaratimurnews.Com di lapangan, oknum dokter ADW ini mendadak berhenti atau resign sekitar sebulan lalu semenjak adanya persyaratan verifikasi semua tenaga kedokteran. Karena ada akreditasi kenaikan kelas di RSUD Blambangan Banyuwangi.

Berhentinya oknum dokter ADW yang mendadak ini sangat mengejutkan dan menjadi pertanyaan berbagai pihak, khususnya karyawan RSUD Blambangan. Beberapa pegawai ada yang mengatakan jika oknum dokter ADW resign karena dilarang oleh suaminya bekerja, ada juga yang hanya bilang sudah resign saja.

“Iya pak benar tapi sudah resign,” kata salah satu pegawai RSUD Blambangan yang namanya sengaja tidak kami sebutkan.

Adanya kecurigaan tersebut, akhirnya tim Suaratimurnews.Com berusaha membuka kembali web RSUD Blambangan untuk mengecek apakah nama oknum dokter ADW masih ada di dalam daftar nama dokter dokter di RSUD Blambangan, Banyuwangi. Benar saja nama oknum tersebut sudah tidak ada dan diganti dengan nama dokter baru YSP sebagai dokter umum.

Karena penasaran, tim Suaratimurnews.Com dan beberapa wartawan mencoba membuka website Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banyuwangi untuk mengecek nama oknum Dokter ADW apakah sudah tercatat dan terdaftar dalam organisasi IDI Banyuwangi. Benar saja nama tersebut juga tidak muncul dan tidak tercantum di daftar nama dokter dokter yang tercatat dalam website IDI Banyuwangi.

Semakin penasaran, tim Suaratimurnews.Com juga membuka website Konsuil Kedokteran Indonesia (KKI). Sebuah organisasi resmi yang berwenang mengeluarkan Surat Tanda Register (STR). Di website tersebut nama oknum dokter ADW juga tidak keluar alias tidak terdaftar dalam organisasi KKI tempat semua dokter mengurus STR sebagai persyaratan untuk mengurus Surat Ijin Praktek (SIP) di dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota.

Saat Memo Timur berusaha mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut, Plt. direktur RSUD Blambangan, dr. Hj Siti Asiyah Anggraeni MMRS hanya menjawab sudah lama keluar. Bahkan saat ditanyakan apakah oknum tersebut adalah dokter umum? Dokter Asiyah hanya menjawab saya tidak paham, langsung tanyakan kepada yang bersangkutan.

“Sudah lama keluar, silahkan tanyakan saja kepada yang bersangkutan,” kata dokter Asiyah melalui pesan whatsup saat ditanya wartawan.

Namun akhirnya dokter Asiyah membenarkan informasi tersebut kepada beberapa awak media dan mengatakan oknum AWD tersebut sudah diberhentikan semenjak ditemukan penipuan/pemalsuan data yang dilakukan oknum tersebut dan dilakukan penelusuran dari pengakuanya.

Sementara itu mantan direktur RSUD Blambangan, Dokter Taufik Hidayat  Sp.And, M.Kes kepada sejumlah media membenarkan oknum tersebut masuk saat dirinya menjabat sebagai Direktur RSUD Blambangan.

Bahkan dokter Taufik yang kini menjadi Drirektur RSUD Gentang juga menjelaskan, jika yang berhak mengeluarkan SIP (surat isin praktik) itu adalah dinas Kesehatan berdasarkan rekom dari organisasi IDI. Jika dokumen administrasinya yang tidak benar berarti rekom dan SIP yang harus ditanyakan karena posisi RSUD hanya sebagai penerima dan mempekerjakan dokter yang sudah mendapat SIP.

“RSUD Blambangan hanya sebagai penerima saja jika sudah lengkap ya tidak ada alasan untuk menolak,” kata dokter Taufik. (guh/win)

LEAVE A REPLY