Bandara Pattimura Ambon Edukasi Siswa SD Inpres 59 Tawiri, Demi Wujudkan Budaya Keselamatan Penerbangan Sejak Dini

oleh -40 Dilihat

Ambon,-Suaratimurnews.com PT Angkasa Pura Indonesia melalui Bandara Internasional Pattimura Ambon terus memperkuat budaya keselamatan dan keamanan penerbangan dengan melibatkan masyarakat sejak usia dini. Melalui rangkaian kampanye keselamatan yang digelar di SD Inpres 59 Tawiri, Jumat (31/7/2026), manajemen bandara mengajak para siswa menjadi pelopor keselamatan di lingkungan sekitar kawasan bandara.

General Manager Bandara Internasional Pattimura Ambon, Johan Seno Acton, menegaskan bahwa keselamatan operasional penerbangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola bandara, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

“Bandara Pattimura bukan sekadar pintu gerbang konektivitas udara di Maluku, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya. Operasional penerbangan yang aman hanya dapat terwujud melalui kesadaran dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan edukasi tersebut menggabungkan tiga program utama, yakni sosialisasi keselamatan ruang udara oleh Airport Safety Management System (ASMS), edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran oleh Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF), serta kampanye budaya keamanan penerbangan melalui Aviation Security (Avsec).

Dalam materi keselamatan ruang udara, para siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) agar bebas dari berbagai gangguan yang dapat membahayakan proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

Petugas mengingatkan bahwa terdapat tiga aktivitas yang dilarang keras di kawasan KKOP, yaitu menerbangkan layang-layang, menggunakan sinar laser ke arah pesawat, serta mengoperasikan drone tanpa izin.

Bandara Pattimura juga mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap aturan keselamatan ruang udara dapat dikenakan sanksi sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dengan ancaman pidana penjara hingga tiga tahun atau denda maksimal Rp1 miliar.

Meski demikian, pendekatan edukasi tetap menjadi prioritas utama. Anak-anak diajak mengganti permainan yang berpotensi membahayakan penerbangan, seperti bermain layang-layang di sekitar bandara, dengan aktivitas yang lebih aman seperti sepak bola, kelereng, petak umpet, maupun menggambar.

Pada sesi berikutnya, tim ARFF memberikan edukasi mengenai pencegahan kebakaran melalui pengenalan teori segitiga api, simulasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hingga demonstrasi peralatan pemadam kebakaran berstandar internasional yang digunakan di lingkungan bandara.

Sementara itu, tim Avsec memperkenalkan pentingnya budaya keamanan penerbangan melalui prinsip “Security is Everyone’s Responsibility” atau keamanan merupakan tanggung jawab bersama.

Para siswa diperkenalkan dengan prosedur pemeriksaan penumpang menggunakan X-Ray Scanner dan Walk-Through Metal Detector (WTMD), sekaligus diberikan pemahaman mengenai bahaya membawa barang terlarang, larangan bercanda tentang bom, serta pentingnya tidak memasuki area terbatas bandara tanpa izin.

Sebagai bentuk pelibatan masyarakat, Bandara Pattimura juga mengajak warga mendukung gerakan “See Something, Say Something”, yaitu melaporkan setiap barang mencurigakan atau aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan penerbangan kepada petugas Avsec.

Melalui kampanye ini, Bandara Pattimura Ambon berharap budaya keselamatan dan keamanan penerbangan dapat tertanam sejak dini, sehingga masyarakat menjadi mitra aktif dalam menciptakan operasional penerbangan yang aman, tertib, dan berkeselamatan tinggi.(*)