OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga di Tengah Gejolak Global dan Lonjakan Risiko Energi

oleh -52 Dilihat

Jakarta–Suaratimurnews.com Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan global akibat eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 1 April 2026.

Ketidakpastian global meningkat seiring memanasnya tensi geopolitik di kawasan Teluk yang berdampak pada terganggunya infrastruktur energi di Timur Tengah.

Situasi ini bahkan memicu penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia—yang kemudian mendorong lonjakan harga energi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Laporan Interim Economic Outlook Maret 2026 dari OECD mencatat bahwa prospek ekonomi global yang sebelumnya berada di jalur penguatan kini terkoreksi akibat konflik tersebut.

Tekanan harga energi yang tinggi juga mempersempit ruang kebijakan moneter global. Kondisi ini memunculkan kembali ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).

Dari sisi Amerika Serikat, perekonomian mulai menunjukkan tekanan akibat inflasi yang masih persisten serta meningkatnya tingkat pengangguran.

Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada Maret 2026 memutuskan menahan suku bunga dan sebelumnya memberi sinyal hanya satu kali pemangkasan sepanjang tahun ini.

Namun, setelah eskalasi konflik Iran, pasar kini memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok mencatat kinerja di atas ekspektasi, ditopang oleh pemulihan permintaan dan penawaran serta stimulus sektor keuangan.

Meski demikian, pemerintah Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai respons atas tantangan struktural dan ketidakpastian global.

Di dalam negeri, OJK mencatat inflasi inti pada Maret 2026 mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi domestik tetap kuat, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89% secara tahunan (year-on-year/yoy) serta penjualan kendaraan bermotor yang tetap solid.

Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi masih menunjukkan tren positif meskipun mulai moderat, dengan PMI manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi.

Ketahanan eksternal Indonesia juga dinilai solid, ditopang oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus pada Februari 2026.

OJK menegaskan akan terus mencermati dinamika global dan menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.